Panduan Ziarah ke Kota Madinah: Adab, Tujuan, dan Keutamaannya

Ziarah ke Madinah merupakan bagian istimewa dari perjalanan ibadah umrah dan haji. Meskipun tidak termasuk dalam rukun atau kewajiban haji dan umrah, banyak keutamaan yang Allah anugerahkan pada kota ini. Madinah adalah tempat hijrah Nabi Muhammad ﷺ, tempat beliau berdakwah, wafat, dan dimakamkan.

Berikut beberapa panduan penting bagi siapa pun yang menziarahi Kota Rasulullah ﷺ:

1. Menjaga Adab dan Menghormati Kota Madinah

Para peziarah, sadarilah bahwa kalian sedang berada di salah satu kota suci yang paling dimuliakan setelah Makkah. Kota ini memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Maka dari itu, jaga adab, bersikap sopan, dan jangan sampai merusak kehormatan Madinah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Madinah adalah tanah haram antara bukit ‘Air dan bukit Tsaur. Siapa yang berbuat dosa atau melindungi pelaku dosa di dalamnya, maka atasnya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengganggu penduduk, mengangkat suara, menyebarkan bid’ah, atau menyebar fitnah di kota ini termasuk perbuatan tercela. Apalagi di lingkungan Masjid Nabawi, hendaknya bersikap penuh hormat.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi…”
(QS. Al-Hujurat: 2)

2. Ziarah ke Masjid Nabawi

Mengunjungi Masjid Nabawi adalah sunnah yang sangat dianjurkan, meski bukan bagian dari ibadah haji. Ibadah di masjid ini memiliki banyak keutamaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak boleh memaksakan diri melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

3. Shalat di Masjid Nabawi

Masjid Nabawi adalah salah satu masjid paling utama. Shalat di dalamnya bernilai 1000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.

“Shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun untuk shalat sunnah, lebih utama dilakukan di rumah.

4. Ziarah ke Makam Nabi ﷺ dan Sahabatnya

Mengunjungi makam Nabi ﷺ, Abu Bakar dan Umar ra. adalah amalan yang dianjurkan, namun harus dilakukan dengan adab: tidak berdoa kepada Nabi, tidak meminta apa pun, dan tidak menghadap kubur saat berdoa.

Nabi ﷺ bersabda:

“Jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan, dan jangan jadikan kuburanku sebagai hari raya (‘ied). Bershalawatlah kepadaku, karena shalawat kalian akan sampai kepadaku di mana pun kalian berada.”
(HR. Abu Dawud)

5. Mengucapkan Salam di Depan Makam

Saat berada di depan makam Nabi ﷺ dan dua sahabatnya, ucapkan salam dengan suara lembut:

  1. “Assalamu ‘alaika ya Rasulallah”
  2. Geser sedikit ke kanan: “Assalamu ‘alaika ya Aba Bakr”
  3. Geser lagi: “Assalamu ‘alaika ya Umar”

Setelah itu, lanjutkan perjalanan tanpa berlama-lama atau menghadap makam saat berdoa.

6. Larangan Bertabarruk yang Tidak Syar’i

Mencari berkah dengan cara mengusap, mencium, atau menyentuh bagian dari Masjid Nabawi (seperti tiang, dinding, atau mihrab) adalah tindakan yang tidak dibenarkan dalam syariat. Begitu pula melakukan thawaf atau beribadah di sekitar makam.

Keberkahan adalah milik Allah semata. Maka, tidak boleh menetapkan suatu benda atau tempat sebagai sumber berkah tanpa dalil syar’i.

7. Shalat di Raudhah

Raudhah adalah area antara mimbar dan rumah Nabi ﷺ. Shalat di sana sangat dianjurkan karena disebut sebagai taman surga.

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, jangan sampai semangat menghalangi orang lain, mendorong, atau menyakiti jamaah lain.

8. Shalat di Masjid Quba

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ. Shalat dua rakaat di sana dinilai seperti pahala umrah.

“Barangsiapa berwudhu di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah.”
(HR. Ibnu Majah)

9. Ziarah ke Makam Baqi’ dan Syuhada Uhud

Peziarah juga dianjurkan menziarahi Pemakaman Baqi’ dan makam para syuhada Uhud untuk mengucapkan salam dan mendoakan mereka. Ucapkan:

“Assalamu ‘alaikum ahlad-diyari minal-mu’minina wal-muslimin…”
(HR. An-Nasai)

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah ziarah termasuk rukun umrah?

Tidak. Ziarah bukan rukun maupun kewajiban umrah, sehingga umrah tetap sah tanpa ziarah. Namun banyak keutamaan yang Allah anugerahkan pada kota Madinah dan tempat-tempat bersejarah di sekitarnya.

Apa adab yang perlu dijaga saat ziarah di Madinah?

Menjaga ketenangan, tidak bersuara keras di area masjid dan makam, berpakaian sopan, serta tidak mendahului atau mengganggu jamaah lain yang sedang beribadah. Madinah adalah kota yang dimuliakan, dan adab adalah bagian dari penghormatan.

Bagaimana cara mengucapkan salam di depan makam Nabi?

Berdiri dengan tenang, menghadap makam, lalu mengucapkan salam dengan suara lembut. Tidak perlu menyentuh atau menempelkan tangan ke dinding makam, karena hal itu tidak dicontohkan.

Apa saja tempat ziarah yang dianjurkan di Madinah?

Masjid Nabawi dan Raudhah, Masjid Quba, makam Baqi’, serta lokasi Syuhada Uhud. Beberapa jamaah juga mengunjungi lokasi Pertempuran Khandaq dan Masjid Qiblatain.

Apakah boleh bertabarruk dengan menyentuh dinding makam?

Tidak. Bertabarruk dengan menyentuh atau mengusap dinding makam tidak dicontohkan oleh Nabi ﷺ maupun para sahabat. Yang dianjurkan adalah memperbanyak doa dan shalat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ziarah di Madinah?

Tergantung jumlah tempat yang dikunjungi. Untuk Masjid Nabawi, Raudhah, Quba, dan Uhud, umumnya perlu setengah hingga satu hari. Jamaah Arah Umroh biasanya mengatur ziarah agar tidak bertabrakan dengan waktu ibadah wajib.

10. Tujuan Ziarah Kubur

Ziarah kubur dalam Islam bertujuan untuk mengingat kematian dan mendoakan yang telah wafat. Namun, tidak dibenarkan:

  • Berdoa kepada penghuni kubur
  • Thawaf atau shalat menghadap kuburan
  • Mengusap dan mencari berkah dari kuburan

Perbuatan tersebut termasuk syirik atau perantara menuju syirik, yang membahayakan iman seseorang.

Allah berfirman:

“Mereka yang kalian seru selain Allah, tidak memiliki kuasa… mereka tidak dapat mendengar, tidak bisa menolong, dan kelak akan mengingkari syirik kalian…”
(QS. Fathir: 13–14)

Penutup
Ziarah ke Madinah adalah kesempatan berharga untuk menambah keimanan dan memperkuat kecintaan kepada Nabi ﷺ. Namun, hendaknya dilakukan dengan ilmu, adab, dan menjauhi segala bentuk penyimpangan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Paket umroh yang terkait

Lihat juga semua paket ibadah umroh Arah Umroh.

Related posts

Leave the first comment